Seiring berjalannya
waktu, modernisasi bukan hanya merubah pergaulan, gaya hidup, budaya namun juga
segala aspek kehidupan manusia, baik dalam pola pikir maupun kinerja. Salah
satunya ialah manusia dalam memandang kehidupan perempuan. Menurut penelitian Stanford
University, perempuan menangkap pesan-pesan di bawah alam sadar secara
lebih cepat dan akurat yang disebut intuisi, kemunculannya berdasarkan pada
proses mental di luar kesadaran yang mana banyak perempuan tidak sanggup
menerangkan secara spesifik bagaimana datangnya, maka dari itu perempuan dikenal makhluk yang bekerja dengan kepekaan dan
emosinya. Kepekaan inilah yang menjadikan suatu hal berbeda dan membuatnya
semakin kompetitif. Menurut Dr. Aisyah, perempuan dibekali dengan ketebalan
otak bagian tengah yang membuatnya dapat multitasking, mengerjakan banyak hal
dalam waktu yang bersamaan. Jadi bersyukurlah bagi perempuan karena hal ini
hanya dimiliki oleh perempuan saja.
Dibalik kelebihan-kelebihan perempuan, terkadang masih ada
perempuan yang belum merdeka sampai saat ini, terbukti setiap peringatan International Women’s Day, tak sedikit
perempuan yang melakukan orasi-orasi maupun menulis dan membuka fakta-fakta
mengenai pelecehan verbal, non verbal dan seksual maupun kekerasan lainnya terhadap
perempuan. Padahal jelas kita hidup di Negara Demokrasi yang dijamin Hak dan
Kewajibannya oleh pemerintah Indonesia, namun masih saja keadilan belum
didapatkan. Tak bisa kubayangkan, perempuan Indonesia sebelum ada R. A. Kartini,
yang mana R. A Kartini ini merupakan tokoh perjuangan perempuan terkenal di
Indonesia sampai-sampai hari lahirnya diabadikan menjadi Hari Nasional. Pendidikan
rendah bahkan tak di sekolahkan, poligami dan perjodohan dialami oleh perempuan
dahulu. Perempuan yang dibelenggu dengan aturan dan adat istiadat membuat
mereka merasakan ketidakadilan, bahkan diskriminasi gender, antara perempuan
dan laki-laki.
Berbicara mengenai Gender, gender adalah peran sosial yang
melekat pada perempuan maupun laki-laki, peran ini berdasarkan penilaian
masyarakat. Biasanya gender dihubungkan dengan feminisme, suatu gerakan sosial
yang terus mengkampanyekan hak-hak perempuan, baik hak memilih, politik, upah
dan menghilangkan kesenjangan yang dialami perempuan. Dalam hal gender,
mengenal dua kata yang sering digaungkan oleh para feminis yaitu kesetaraan dan
keadilan. Dua kata yang sebenarnya memiliki konotasi positif tergantung dengan
kata selanjutnya. Contoh saja kata, Membangun
peluang pendidikan yang setara dengan laki-laki dan mendapatkan upah yang adil.
Kata adil dan setara terlihat sama jika berbicara mengenai sosial, politik atau
konteks lainnya selain agama dan budaya. Dalam konteks Agama dan budaya ada
beberapa sesuatu yang harus ditempatkan sesuai proporsionalnya sehingga
penggunaan kata setara harus hati-hati dalam memaknainya, apalagi jika sudah
melawan kondrat sebagai perempuan. Perlu diketahui bahwasanya perlawanan-perlawanan
perempuan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw, yaitu Asyiah, istri Nabi
yang ke tiga. Dengan menggunakan kecerdasan dan keberaniannya membuat Aisyiah membuktikan
bahwasanya perempuan juga bisa, bukan hanya laki-laki.
Sampai
saat ini, perempuan atau kartini-kartini sudah memperlihatkan sepak terjangnya di
dunia pekerjaan, pendidikan, politik dan ekonomi baik dalam hal akademik maupun
non akademik, perempuan bisa dan berani untuk aksi dan speak up. Posisi-posisi strategis yang diusahakan untuk dapat
diduduki juga oleh kaum perempuan membawa perubahan yang cukup signifikan
menurut biro statistik “strategi kehidupan
perempuan kepala rumah tangga” seperti, fenomena kuantitas perempuan
bekerja diluar rumah meningkat, kuantitas perempuan menjadi kepala rumah tangga
mengalami peningkatan, semakin perempuan dihargai oleh Negara maka perempuan
dapat ikut berpartisipasi membawa impact baik untuk masyarakat luas, bukan
hanya untuk perempuan saja.
Beberapa
perempuan menyebut karir sebagai tantangan. Selain karir, perempuan tetap
miliki tanggung jawab dalam mengurus Rumah Tangga. Sehingga perempuan harus
bekerja keras dalam pengembangan-pengembangan karirnya. Jika saat ini perempuan
sudah mampu membuktikan kepada dunia bahwa perempuan dapat bekerja diluar
rumah, tak hanya berpaku dengan dapur dan mesin cuci atau mengurus anak. Namun
dapat membagi waktu dengan bekerja diluar dan merealisasiakan dari ilmu-ilmu
yang didapatkannya selama di bangku pendidikan.
Melihat
kondisi di tahun 2020 ini, yang mana mengalami pandemi Covid-19, dirasakan oleh
dunia tak hanya Indonesia membuat lumpuhnya perekonomian diberbagai Negara, karena
adanya beberapa aktivitas yang harus dihentikan untuk keamanan dan kesehatan bersama.
Lalu kartini-kartini Indonesia bahkan perempuan di luar Indonesia pun masih
bisa menampakkan kepada dunia bahwa dengan dan tanpa di rumah mereka tetap
dapat beraktivitas. Menerapkan social
distancing sesuai anjuran Presiden Indonesia, Bapak Jokowi “Bekerja di
rumah dan belajar pun dirumah”. Perempuan masih dapat menjalankan seperti
hari-hari biasanya ketika sebelum pandemi, tentunya dengan usaha karena pandemi
juga tantangan untuk sebagian perempuan. Beberapa perempuan ada yang masih
bekerja karena peraturan di tempat kerja, baik dengan profesi dokter, perawat,
karyawan ataupun buruh pabrik yang masih aktif melakukan produksi sebab bagi
Negara berkambang rasanya belum mampu jika melakukan lockdown dengan kondisi perekonomian yang masih belum stabil.
Ditengah pandemi, kerja
dan belajar dari rumah membawa dampak yang berbeda bagi perempuan dan
laki-laki. Kondisi ini juga dapat menambah beban perempuan yang mana mengemban peran
ganda dengan mengurus rumah tangga sekaligus pekerja. Ketika ekonomi keluarga
tak stabil, perempuan rentan mendapatkan kekerasan rumah tangga seperti
kekerasan fisik, psikis, finansial dan seksual sehingga dapat mempengaruhi
kesehatan mental perempuan. LBH APIK mengungkapkan,
terjadi peningkatan pengaduan kasus kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual,
dan pornografi online di masa
pandemi, dengan menerima pengaduan
melalui hotline, sosial media, dan e-mail. Bagi sebagian perempuan yang
belum mendapatkan keadilan meskipun itu minoritas, berada dirumah maupun diluar
rumah adalah sebuah ancaman. Maka dari itu, bagi kaum-kaum perempuan,
kartini-kartini yang tidak mendapatkan perlakuan buruk atau peran sosial yang
melekat akibat budaya patriarki tetap berjalanlah maju, membuktikan dengan
mengemban peran ganda akan tetap amanah dalam menjalankannya.
Hari kartini tahun 2020
ini merupakan paling istimewa disepanjang sejarah sejak kelahiranku ditahun
2020, yang mana kusaksikan perempuan-perempuan tetap melambung memperlihatkan
sepak terjang ditengah pandemi Covid-19. Aku ucapkan selamat perempuan berbicara,
salamat perempuan berkarya, selamat para karyawan perempuan, selamat pahlawan
kesehatan perempuan dan selamat bagi para
buruh perempuan. Apapun profesi kartini-kartini di tahun 2020 ini, peran
ganda tetap kalian emban dengan baik.
Hidup Perempuan !
Dipublikasikan juga oleh :
http://immhatta-feb.blogspot.com/2020/06/juara-1-lomba-menulisnominasi.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar