Indonesia merupakan
Negara berkembang yang terletak di Asia Tenggara dengan populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018 yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada diantara daratan benua Asia dan Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia juga adalah
negara kepulauan terbesar
di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Fakta ini yang
membuat Indonesia kaya akan kekayaan alam dilaut bahkan di daratan. Menurut salah seorang peraih Nobel Ekonomi ini,
pertumbuhan ekonomi dicapai oleh tiga faktor, yakni peningkatan persedian
barang yang stabil, kemajuan teknologi, serta penggunaan teknologi secara
efisien dan efektif. Namun permasalahan yang biasa terjadi
pada Negara berkembang adalah pengelolaan Sumber daya alam yang terhambat
akibat fasilitas kurang memadai sehingga sumber daya alam tidak dapat di manfaatkan
semaksimal mungkin oleh masyarakat Indonesia dan kuantitas penduduk yang
semakin meningkat namun tidak didukung dengan lapangan pekerjaan yang dapat
mengurangi pengangguran di Indonesia. Lapangan pekerjaan di Indonesia pun
tersebar tidak merata, adanya perbedaan pembangunan serta variansi lapangan
pekerjaan antara Kota dan Desa membuat masyarakat lebih berminat bekerja di
Kota sehingga banyak masyarakat merantau atau menetap di Kota, akibatnya memicu
penyebaran penduduk menjadi tidak seimbang di Indonesia.
Terlepas dari
kekurangan tersebut dapat mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Namun,
pemerintah selalu berupaya untuk membangun Indonesia menjadi lebih berkemajuan
dengan menggencarkan pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung perekonomian
di tiap-tiap wilayah yang dapat mempermudah jalur pendistribusian barang dan
jasa. Serta kegiatan ekspor, impor, pajak menjadi sumber devisa Negara yang
memiliki predikat Negara berkembang. Pengaruh dari luar seperti perekonomian
dunia yang tidak stabil memicu perekonomian negara-negara lain, salah satunya
Indonesia yang cenderung mengalami fluktuasi. Fluktuasi tersebut diakibatkan
dari kerjasama yang dijalin Indonesia dengan Negara-negara lain seperti proses
ekspor impor.
Dalam perjalanannya, Indonesia
mencatatkan pasang-surut pertumbuhan ekonomi dari masa ke masa pemerintahan saat
ini. Sebagai data awal, per kuartal III-2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia
tercatat 5,17 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu
sebesar 5,06 persen. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07
persen, angka tertinggi sejak 2014. Memang, angka itu masih di bawah
pertumbuhan ekonomi masa pemerintahan Soeharto yang sempat menembus 10 persen,
sehingga ketika itu Indonesia dipuja-puji sebagai salah Macan Asia. Bahkan,
kinerja ekonomi saat ini masih di bawah capaian pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono yang bisa di atas 6 persen.
"Sekarang kita jelas tumbuh
lebih baik, meski pertumbuhan di bawah zaman Orde Baru tapi reformasi ekonomi
kita menunjukkan perbaikan pesat," ujar Chief Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih,
kepada Kompas.com, Senin (5/11/2018).
Kini Indonesia 2019
sangat dirasakan sekali, ketika DPR akan mengadakan Sidang paripurna untuk
pembahasan RUU Cipta Kerja yang digadang sebagai Pesta Demokrasi karena
didalamnya terdapat rencana-rencana untuk pembangunan Indonesia dan membebaskan
investor dan pekerja luar negeri, namun pembahasan itu tertunda akibat pandemi
Covid-19 yang mana Buruh dan Mahasiswa Indonesia mengingkan adanya penundaan
karena dirasa RUU Cipta Kerja tersebut memang bagus untuk para investor, Luar
Negeri serta Perusahaan Swasta tetapi tidak menguntungkan bagi Rakyat Indonesia
sebab persaingan di Negara sendiri (Indonesia) akan lebih ketat dan mengurangi
lapangan pekerjaan yang dapat menerima Orang Indonesia sendiri.
Dengan adanya Pandemi
Covid-19 mengakibatkan turunnya nilai tukar rupiah ke USD meskipun bukan hanya
Indonesia saja yang mengalami namun Negara lain yang terdampak oleh Virus
Covid-19. Tercatat pada Senin, 30 Maret 2020 1 Rupiah ke USD berjumlah 16,259.32. Pandemi ini mempengaruhi perekonomian dunia lantaran virus
tersebut mewabah hampir seluruh Negara dan melumpuhkan ekonomi di masing-masing
Negara, seperti hal kecil saja dapat mempengaruhi sisi produksi dan distrubusi
barang, baik barang sekunder, primer maupun terrier yang dibutuhkam oleh
konsumen. Padahal di Indonesia kini, Virus masuk ke Indonesia mendekati
bulan-bulan persiapan Hari Ramadhan, sehingga banyak barang kebutuhan pokok yang
langka dan menjadi harganya semakin tinggi. Tentunya ini akan menjadi catatan
sejarah di dunia dan khususnya Indonesia sendiri yang mengalami 4 (empat)
Kejadian Luar Biasa sekaligus dalam 1 tahun.
Mahasiswa digadang
sebagai agent of change dan Responsif
apalagi di era 4.0 yang disebut sebagai kaum Millenial pasti berpendapat untuk
berdiam saja tidak akan mempengaruhi Negara menjadi membaik. Menilik kondisi
ekonomi saat ini, dapat menganalisa bahwa masih bisa membantu secara nyata
namun tidak bertatap langsung. Dengan mematuhi anjuran pemerintah, menyebarkan
informasi bermanfaat berkaitan Corona baik penyegahan ataupun cara hidup sehata
serta menyebarkan berita-berita fakta agar Warga Indonesia tidak dibuat panik
yang dapat membuat imun dalam diri seseorang turun. Baiknya pula tetap
beraktivitas secara online, seperti bekerja online dan Kuliah online yang mana
dapat membantu perekonomian dan pendidikan orang lain maupun diri sendiri.
Revolusi Indonesia
dapat terlaksana dengan hal kejadian luar biasa ini, dimana seluruh aktivitas
berbasis online, menerapkan era 4.0 ini secara implementasi bukan hanya teori.
Dengan kesadaran berbasis online meski banyak kendala karena kurangnya
fasilitas yang memadai dari Indonesia sehingga Basis online ini belum bisa
dikatakan lancar, tapi dengan berjalannya waktu akan menjadikan terbiasa Warga
Indonesia. Jika basis online dan Indonesia mendukung Jaringan internet 4G, akan
membantu Indonesia dalam menerapkan Era 4.0 dan dapat bersaing dengan Warga
Negara yang sudah maju atau Negara berkembang di Asia Tenggara yang bisa
dijadikan percontohan adalah Negara Singapura. Berbicara Revolusi maka
berbicara kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar